Tidak terasa sebentar lagi akan diadakan pemilu presiden di negara ini. Sebuah momen yang akan menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin negara dan wakilnya di negeri ini. Sudah jadi anggapan umum bahwa menjadi seorang presiden adalah tujuan akhir dari jabatan tertinggi di pemerintahan negara ini. Seorang presiden adalah orang yang dapat memiliki akses terhadap berbagai macam aspek birokrasi dan hubungan sosial masyarakat. Siapapun yang diperintah oleh presiden, maka yang diperintah harus menurut, siapapun yang dipanggil oleh presiden, maka yang dipanggil harus menghadap. Demikianlah anggapan dari mayoritas masyarakat dewasa ini.
Aku ingat sebuah pendapat dari salah satu temanku semasa kuliah dulu. Dia juga sempat menuangkan pendapatnya melalui sebuah artikeldi majalah kampus. Menurut temanku jabatan presiden tidaklah terlalu istimewa, karena secara legislatif presiden diangkat dan diberhentikan oleh ketua MPR. Sehingga kapanpun seorang ketua MPR dapat saja menghentikan seorang presiden dari jabatannya, tentunya dengan alasan dan melalui sidang yang sah menurut aturan perundang-undangan sehingga tidak keluar dari jalur konstitusi.
Menurutku, pendapat temanku ini ada benarnya. Kebanyakan masyarakat masih mengalami apa yang dinamakan Post Power Syndrome, yakni sebuah gejala yang terjadi dimana ‘penderita’ hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (entah jabatannya atau karirnya, kecerdasannya, kepemimpinannya atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Masyarakat masih memiliki anggapan dari masa orde baru bahwa seorang presiden adalah kepala negara yang memiliki kekuasaan tiada batas dalam memerintah negara yang dipimpinnya, tanpa disadari bahwa secara legislatif masih ada jabatan yang lebih tinggi.
Sejak runtuhnya era orde baru 9 tahun yang lalu, ternyata masyarakat masih belum banyak yang memiliki kecerdasan dalam memandang kehidupan berpolitik khususnya di negara ini. Hanya sedikit dari masyarakat paham betul akan masalah ini. Banyak masyarakat yang hanya bisa pasrah terhadap keadaan, namun ada juga yang sadar namun kurang artikulatif dalam mengemukakan pendapatnya. Namun aku peribadi salut terhadap masyarakat yang mau dan berani mengungkapkan pendapatnya terhadap permasalahan politik di negara ini meskipun kurang artikulatif tapi demikianlah yang namanya proses pendewasaan dalam berpolitik.
Aku pribadi menyadari bahwa sebenarnya jabatan bukanlah segala-galanya. Jabatan merupakan sebuah beban amanat yang harus dipikul dan pada akhirnya akan menjadi pertanggungjawaban dihadapan orang-orang yang dipimpinnya, bahkan menjadi pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Aku tak habis pikir kepada mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi seorang pemikul tanggung jawab. Apakah mereka tidak sadar bahwa suatu saat mereka akan dituntut dan dirongrong oleh berbagai macam kalangan? Betapa “luar biasa” mental mereka itu. Sampai-sampai aku pribadi sempat berangan-angan mempunyai mental seperti mereka. Mereka tidak merasa susah maupun merasa keberatan bahkan sampai ada yang terang-terangan menyatakan ambisinya untuk menjadi seorang pemimpin. Ada yang habis-habisan berkampanye melalui media cetak dan elektronik dengan rela mengeluarkan dana yang luar biasa. Namun apabila terpilih nantinya apakah mereka juga rela mengeluarkan dana yang demikian besar demi pembangunan dan kesejahteraan rakyatnya? Apakah semangat mereka dalam memimpin nantinya akan lebih besar dari semangat mereka saat berkampanye? Apakah realisasi kerja mereka nantinya sepadan dengan janji-janji ‘hebat’ mereka saat berkampanye? Hanya waktu yang nantinya akan menjawab semuanya.
Memang demikian paradigma yang terjadi dalam kehidupan berpolitik di Indonesia sekarang ini. Partai-partai yang ada ibarat agama baru di mana para calegnya adalah ibarat rasul-rasul yang membawakan janji-janji manis seperti doa-doa yang dikiranya mustajab. Bumbu-bumbu doktrin disebar guna menambah lezat janji-janji yang ditelan oleh para simpatisan dan hanya memberikan rasa kenyang sesaat.
Terlepas dari peliknya masalah kehidupan berpolitik, aku hanya berharap siapapun yang nantinya memimpin negara ini adalah seorang pemimpin yang memliki konsep pembaharuan bangsa serta bijak dalam mengambil setiap keputusan. Sudah saatnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta ini memiliki seorang kepala negara dan wakilnya yang tidak hanya pandai dalam memimpin pemerintahan, tapi juga dapat membimbing rakyatnya menuju pendewasaan mental dalam bernegara dan berkebangsaan. Aamiien.
Makanya mereka meskipun sudah tua tetap ingin berkuasa….dan selalu mersa hebat…hehehe..alamiah kaleee..